Seperti biasanya aku selalu dibangunkan jam lima pagi “An, An! Bangun sayang!” Itu selalu dikatakan Bunda setiap pagi. Juga seperti biasanya adik An segera lompat dari tempat tidurnya dan berteriak bangun di telinga An. Sebenarnya namanya bukan An tapi Andanta Clora Jeassy Marshell. Wah, panjang sekali namanya, pasti itu yang dikatakan teman-teman. Tak sengaja hari ini karena An kesal perut Deio tertendang. “Au!!! Gimana sih kamu nih bodoh pisan!” Kata Deio sambil mencubit perut kakaknya. Kok, tulisannya Deio, ya? Ya memang namanya Deio tapi dibacanya Deo. “Deio, jangan cubit perut kakak!” Pelototan ayah sampai di mata Karin. Oh, siapakah Karin itu? Karin adalah Keponakan ayah. Dia adalah anak dari Om Gun. Secepat mungkin Karin menyambar handuk yang ada ditangan mama. Dengan buru-buru juga, An memasuki kamar mandi kamar. Deio menangis tiada henti. Bunda, ayah jahat Deio kan tidak mau dipelototi!” Tangis Deio sampai An danKarin yang dang mandi pun menutup kuping. “Ayah pergi ke Kerja dulu ya!”
Dengan tergesa-gesa ayah memakai kaus kaki barunya dan sepatu Bootnya tinggiii……. sekali. “Bunda kok kaus kaki ayah sempit ya?” Kerut dahi ayah semakin menonjol ke luar. “Bunda tidak tau, kemarinkan yang memilih kaus kaki kan ayah.” “Memang ayah tapi ukurannya yang itu pas sekali dengan kaki ayah.” Kata ayah dengan wajah serius. “Sudah lah pakai dulu yang ada mama mau menyiapkan makan.” Kata mama penuh nasihat. “Da mama da Ank!”
Oooh, siapa sih Ank itu? Ank adalah adik bayi yang berumur tiga bulan. Siapa sih nama panjangnya Ank? Nama panjangnya adalah Ankdan Kandran Cert Mollten Jesica. “Oe oe oe oe…..” tiba-tiba Ank menangis. Sesudah sarapan An dan Karin berangkat sekolah. Teng teng teng loceng telah berbunyi pas An dan Karin datang. “Kita terlambat deh.” “Tak apa itu Nana masih main Ular Tangga.
“Anak-anak kita sekarang mendapatkan teman baru dari Amerika.”
“Waw Amerika, perempuan atau laki-laki ya?” Itu yang ditanyakan sekelas. Hanya An yang diam saja. “An kenapa? Sakit, pusing, atau belum sarapan?” Tanya Nana. “Tidak semuanya.” Jawab An singkat
“ Yan, Yanti. An sekarang sudah sombong.” Kata Nana judes. “Sssttt diam anak-anak ini teman baru mereka.” “Yahhh perempuan!”Kata semua anak laki bersama-sama. “Tulis nama lengkapmu di sini!”
“Karin Jassica Land Cemp H.” “Hnya apa?” kata salah seorang anak. “Hantew”
“Salaman keteman-teman.” Karin” “Nana” “Karin” “Jassica” “Karin” “Jassica” “Karin” “Jassica”. Setelah sampai dimeja An, Karin tidak menyebutkan nama tapi “Hantew” “Kok?” kata Uje. “Yan, benar kan An sudah sombong. Buktinya An yang menyebutkan nama Hantew bukaan… Karin” Sejudesnya yang ia punya dia katakan kepada Yanti. Teng teng teng “Anak-anak sekarang kalian boleh istirahat kecuali An dan Karin!” Kata. bu Nuji sambil tersenyum. “Emang enak anak baru langsung dihukum!” Dani mengejek. “Deio ayo kamu cepat mandi trus sarapan. Kok jam segini belum mandi sih?!” Canda Bunda “Ya Bunda handukya? Oiya kan ada di kamar mandi.” Balas Deio dengan canda pula. “Bu, jadi ke rumah sakit tidak?” Tanya pak Sandi. Ya ampuun siapa lagi sih Pak Sandi itu? Pak Sandi adalah supir dirumah Ibu Cathrin. Ibu Cathrin adalah Bunda. “Tin tin. Deio Bunda pergidulu ya!”
“Oo… Bunda sudah pergi. Kaus kakiku kebesaran. Aku tidak tau dimana tempat kaus kaki. Mba’ Nunun lagi di rumah Savero. Tapi tak apalah, yang penting pakai kaus kaki.” Kata Deio yang megeluh.
“ Deio silahkan masuk.” Kata Bu Gliss. “Ghani kenalkan ya pada teman-temanmu! Dan nanti juga disuruh tulis nama lengkapnya. Bu Gliss ada rapat mendadak.”
“Nih tulis nama kamu pake kapur jelek ini!” Kata Ghani yang sombong.
Sejelek-jeleknya kapur itu Tetap saja Deio tulisannya rapi.
“Deio B. Nadd” “B nya dan Naddnya itu apa?” Tanya salah seorang perempuan yaitu Ningsih. Tiba-tiba Deio menengok dan berkata “Ningsih?! Bukannya kamu sekolah di Taruna Bakti?” “Lho?! Deio toh. Kamu kok pindah ke sini kapan?” Mata Ningsih berkaca-kaca saat berkata.
Friday, September 29, 2006
Surat Untuk Diyan
Jam,06:38 surat ini dibuatnya.
Hari Sabtu, tanggal 20-Mei-2006
Hari ini aku akan bicara pada temanku yang bernama:
Ehmmm…bagaimana kabarmu hari ini?
Apakah kamu baik-baik saja?
Kalau kabarmu hari ini baik tolong jawab suratku ini,
jika kamu sakit setelah sembuh aku mohon sekali padamu agar membalas surat ini seperti pantun yang berbunyi:
Empat kali empat sama dengan enam belas
Sempat tidak sempat harus dibalas
Dyan, kamu pasti tidak tahu aku siapa. Aku ini Bela !
Kayaknya Dyan sudah lupa deh.
Di surat aku selipin biodata ku.
Lagi ngapain nih ?
Bantu-bantu ortu ya.
Kamu disekolah Kemarin Ranking berapa ? aku SMT kemarin ranking 1, teman-teman sekolah petinggen gimana kabarnya..?
Apakah kamu masih sekolah di Petinggen ?
Aku kangen sama kamu lho Diyan, kapan nih bisa main-main ke rumah aku di Bekasi. Nanti kapan-kapan kalau aku ada liburan panjang insyallah aku ke Jogja.
Sekian suratku
(Bela)
Hari Sabtu, tanggal 20-Mei-2006
Hari ini aku akan bicara pada temanku yang bernama:
Ehmmm…bagaimana kabarmu hari ini?
Apakah kamu baik-baik saja?
Kalau kabarmu hari ini baik tolong jawab suratku ini,
jika kamu sakit setelah sembuh aku mohon sekali padamu agar membalas surat ini seperti pantun yang berbunyi:
Empat kali empat sama dengan enam belas
Sempat tidak sempat harus dibalas
Dyan, kamu pasti tidak tahu aku siapa. Aku ini Bela !
Kayaknya Dyan sudah lupa deh.
Di surat aku selipin biodata ku.
Lagi ngapain nih ?
Bantu-bantu ortu ya.
Kamu disekolah Kemarin Ranking berapa ? aku SMT kemarin ranking 1, teman-teman sekolah petinggen gimana kabarnya..?
Apakah kamu masih sekolah di Petinggen ?
Aku kangen sama kamu lho Diyan, kapan nih bisa main-main ke rumah aku di Bekasi. Nanti kapan-kapan kalau aku ada liburan panjang insyallah aku ke Jogja.
Sekian suratku
(Bela)
Orang Kaya Mengaku Bukan

Disebuah negara yang bernama Singapore tinggalah sahabat yang bernama Deasy dan Chia.Deasy mempunyai kakak dan adik bernama Rio dan Neycha,Ron biasanya dipanggil Deasy Kak Ron,dan Mai dipanggil dik Echa.Pada suatu hari Deasy dan Chia bertemu di Taman Kompleks Pipiria. Sekian percakapannya:
Deasy : Hai Chia,kamu maua ke mana?Aku mau ke Bandara!
Chia : Hai juga Deasy!Akumau ke Rumah Sakit! Oh ya, kamu mau ngapain ke Bandara?
Deasy : Aku mau jemput adikku Echa yang di London yang sedang sakit thypus!Kamu ngapain juga kamu ke Rumah Sakit?
Chia : Aku mau menjenguk adikku Icha yang lagi sakit thypus!
Deasy : Sama dong.
Chia : Iya. Eh, ngomong-ngomong kamu ke bandara mana?
Deasy : Aku ke bandara Changi Singapore. Kamu rumah sakit mana?
Chia : Aku ke rumah sakit Glenneagles.
Deasy : Bareng yuk, naik mobilku.
Chia : Ok, terima kasih kalau kamu tidak keberatan.
Anastasia: Kak Ron, ayo jalan.
Kak Ron: Oke deh. Itu siapa, dik?
Deasy : Ini temenku, kak. Dia mau ke rumah sakit Glenneagles.
Kak Ron: Ooh, begitu. Ok, let’s go!
Chia : Waah, mobilmu bagus sekali ya?
Deasy : Ah, enggak biasa aja. Nanti sehabis dari rumah sakit, mampir ke rumahku ya? Kita bisa main-main dulu.
Chia : Ayuk, siapa takut.
Kak Ron: Loh, sehabis ini bukannya kita langsung pulang?
Deasy : Kak, Ron nanti kita jemput Chia lagi dari rumah sakit. Jadi, Chia istirahat sekaligus main di rumah kita.
Kak Ron: Adikmu opname di rumah sakit, kamar nomor berapa?
Chia : Kamar 2006. Lantai 20 room 06.
Kak Ron: Ok, deh nanti dianterin ke kamar itu.
[Bekasi, 12 Mei 2006]
Belajar Mengaji
“Deta, Deta! Ayo mengaji, Bu Shofia sudah datang!” teriak Mama dari luar kamar.
Deta kaget, karena saking asyiknya menonton TV.
“”Iya, iya, Ma!” Deta segera mengambil kerudungnya.
”Malas, ah” kata Deta dalam hati.
”Deta ayo cepat!” kata mama.
”Huh, mama selalu menyuruh aku ngaji! Untuk apa sih mengaji?”
Deta kaget, karena saking asyiknya menonton TV.
“”Iya, iya, Ma!” Deta segera mengambil kerudungnya.
”Malas, ah” kata Deta dalam hati.
”Deta ayo cepat!” kata mama.
”Huh, mama selalu menyuruh aku ngaji! Untuk apa sih mengaji?”
Vanesa dan Vanesia yang Bahagia
Di sebuah kota,yaitu kota Bandung,tinggallah kakak beradik yang kembar. Namanya Vanesa dan Vanesia. Vanesa dan Vanesia juga mempunyai kakak yang bernama Varen dan Vazka. Vazka adalah anak pertama dan Varen anak kedua.
Vanesa juga anak yang lahir pertama dan Vanesia lahir terakhir. Vanesa dan Vanesia masih kelas dua SD. Mas Vazka sudah kelas dua SMP dan kak Varen kelas enam SD. Memang keluarga Pak Varenzlo ini masih muda-muda.Umur Pak Varenzlo saja masih tiga puluh tahun, dan Bu Varena dua puluh lima tahun. Di rumah keluarga ini juga ada baby sister untuk berjaga-jaga jika Bu Verena mempunyai anak mendadak. Nama baby sisternya adalah Laura.
”Vanesa,Vanesia ayo bangun. Sudah pagi. Ayo,sekarang jam setangah enam.” kata mama membangunkan Vanesa dan Vanesia.
”Apa, jam setengah enam? Wah gawat!” kata Vanesa tergesa-gesa. Vanesa langsung lompat dan lari dari tempat tidur. ”Aduh, pelan-pelan dong! Ada apa sih, kok buru-buru banget? Sekarang kan hari Minggu!” Omel Vanesia.
”Iya Vanesa, ada apa kok kayaknya gawat banget gitu?” tanya mama.
”Ini ma, aku mau kekamar kak Varen. Katanya kak Varen, aku sama kak Varen mau ngomong rahasia.” kata Vanesa masih dengan tergesa.
[Bandung, 14 Juli 2006]
Vanesa juga anak yang lahir pertama dan Vanesia lahir terakhir. Vanesa dan Vanesia masih kelas dua SD. Mas Vazka sudah kelas dua SMP dan kak Varen kelas enam SD. Memang keluarga Pak Varenzlo ini masih muda-muda.Umur Pak Varenzlo saja masih tiga puluh tahun, dan Bu Varena dua puluh lima tahun. Di rumah keluarga ini juga ada baby sister untuk berjaga-jaga jika Bu Verena mempunyai anak mendadak. Nama baby sisternya adalah Laura.
”Vanesa,Vanesia ayo bangun. Sudah pagi. Ayo,sekarang jam setangah enam.” kata mama membangunkan Vanesa dan Vanesia.
”Apa, jam setengah enam? Wah gawat!” kata Vanesa tergesa-gesa. Vanesa langsung lompat dan lari dari tempat tidur. ”Aduh, pelan-pelan dong! Ada apa sih, kok buru-buru banget? Sekarang kan hari Minggu!” Omel Vanesia.
”Iya Vanesa, ada apa kok kayaknya gawat banget gitu?” tanya mama.
”Ini ma, aku mau kekamar kak Varen. Katanya kak Varen, aku sama kak Varen mau ngomong rahasia.” kata Vanesa masih dengan tergesa.
[Bandung, 14 Juli 2006]
Tentang Dia
Aku yang dulu mengaguminya
Aku yang dulu menyayanginya
Slalu kucoba untuk terus dekat dengannya
Dan slalu mengrapkan aku dapat menjadi orang yang teristimewa dihatinya
Tapi ternyata……
Semua harapan itu sirna sekarang telah ada seorang yang teristimewa dihatinya
Tertegun aku ketika mengetahui semua ini, sungguh pedih hatiku
Menangisinya slama ini bagai orang tak berguna menetupi kepedihani ini dengan senyuman
Tapi satu hal yang akan slalu kusimpan yaitu adalah senyumannya yang dapat menggetarkan hati
Dan memang mungkin sudah saatnya aku narus melepaskan kepergiannya jauh dari kehidupanku dan melupakan semua Tentang Dia
[Bandung, 14 Juli 2006]
Aku yang dulu menyayanginya
Slalu kucoba untuk terus dekat dengannya
Dan slalu mengrapkan aku dapat menjadi orang yang teristimewa dihatinya
Tapi ternyata……
Semua harapan itu sirna sekarang telah ada seorang yang teristimewa dihatinya
Tertegun aku ketika mengetahui semua ini, sungguh pedih hatiku
Menangisinya slama ini bagai orang tak berguna menetupi kepedihani ini dengan senyuman
Tapi satu hal yang akan slalu kusimpan yaitu adalah senyumannya yang dapat menggetarkan hati
Dan memang mungkin sudah saatnya aku narus melepaskan kepergiannya jauh dari kehidupanku dan melupakan semua Tentang Dia
[Bandung, 14 Juli 2006]
Mengapa??
Mengapa aku harus tinggalkannya?
Mengapa aku harus menjauhinya?
Kapankah aku akan bertemu dengannya lagi?
Kapankah ku tertawa riang dengannya lagi?
Bagaimana cara untuk menemuinya lagi?
Mengapa kuharus tingalkannya?
[Banung, 14 Juli 2006]
Mengapa aku harus menjauhinya?
Kapankah aku akan bertemu dengannya lagi?
Kapankah ku tertawa riang dengannya lagi?
Bagaimana cara untuk menemuinya lagi?
Mengapa kuharus tingalkannya?
[Banung, 14 Juli 2006]
Aku Dan Dia
Disaat itu aku dan dia sedang senang bercanda ria
Kita yang sejati tak ada kata emosi pada diri kita
Aku menyukai sifat dirimu
Karna kau sejati, rendah hati, dan tidak pernah sombong
Kau yang pemalu tak merusak hatimu
Kau tetap baik seperti yang dulu
Oh..... sahabat, aku tak akan melupakanmu
Aku meyakinkanmu, dan aku berjanji tak akan melupakanmu
[Bandung, 14 Juli 2006]
Kita yang sejati tak ada kata emosi pada diri kita
Aku menyukai sifat dirimu
Karna kau sejati, rendah hati, dan tidak pernah sombong
Kau yang pemalu tak merusak hatimu
Kau tetap baik seperti yang dulu
Oh..... sahabat, aku tak akan melupakanmu
Aku meyakinkanmu, dan aku berjanji tak akan melupakanmu
[Bandung, 14 Juli 2006]
Thursday, September 28, 2006
Kenapa Harus Begini
Disebuah negara yang bernama Rockmode tinggalah serorang anak bersama orang tunya. Anaknya bernama Renata Finnia atau biasa dipanggil Renata. Pada suatu hari Renata ditinggal orang tuanya pergi ke Pesta Humachara yang diadakan setiap tahun dimusim salju. Tapi sayang, anak kecil tidak boleh ikut, seperti Renata.
Memang umur Renata masih enam tahun, Ranata memang masih kelas Dua SD. Sekolah Renata cukup jauh dari rumahnya, sekitar lima km yang ditempuh dengan naik motor, mama sendirian.
”Renata, ayo tidur. Sudah malam, ayah dan bunda tidak usah dipikirkan. Mereka pulang besok malam. ” Kata pembantu Renata.
Dengan langkah limbung Renata menuju kamarnya. Lampu kamar dimatikannya. Pembantu Renata mengunci semua pintu. Sekolah Renata adalah Elementary School Rockmode. Di rumah Renata juga ada pembantu. Jadi, Renata agar tidak ada penjahat masuk, dan mematikan semua lampu.
“ Tek tek tek.“ Semua lampu sudah dimatikan.
Diam-diam dari semak-semak luar ada dua orang yang mengintai rumah Renata yang kaya raya.
“Aman,ayo kita curi isi rumah ini!“ Kata salah satu dari pencuri itu.
Pintu depan rumah Renata memang sudah tua, dan di sebelah pintu ada alarm pencuri, jadi jika yang masuk orang yang tidak ada di memory alarm akan berbunyi kecuali di program dulu. Karena pencuri itu tidak sadar, tiba-tiba “Tilulit tilulit tilulit!!!! “ Alarm berbunyi sangat keras sehingga semua orang yang sedang Pesta kalang kabut dan bereriak-teriak histeris.
“Tenang semuanya, itu hanya alarm rumah saya, berarti dirumah saya ada pencuri.“ Kata ayah Renata dengan tegas.
Renata dan pembantunya langsung keluar rumah, bersamaan dengan orang-orang yang sedang Pesta yang sudah siap membawa pentungan tiap orang satu.
Renata langsung membuka pintu depan, “pak Kogoro dan pak Roni sedang apa ? Jangan-jangan bapak mau mencuri barang-barang ayahku ya!” Kata Renata dengan curiga. “Iya-iya, kalian berdua akan mencuri ya” teriak warga yang sedang berpesta.
“Tidak-tidak aku tidak bermaksud mencuri tapi aku dan pak Roni sedang kehabisan uang untuk membayar kontrakan rumah. Jadi aku dan pak Roni ingin mengambil satu barang yang berharga milik pak Daniel.“ Kata pak Kogoro menjalaskan.
“Jika kau kehabisan uang untuk membayar kontrakanmu kenapa kau tidak meminta baik-baik uang” Pak Daniel menegaskan.
“Kalau begitu saya meminta maaf sebesar-besarnya.“ Kata pak Kogoro meminta maaf atas kesalahannya.
“Makanya, kenapa begitu? “Kta pak Daniel menegaskan yang terakhir kalinya.
(24 Mei 2006)
Memang umur Renata masih enam tahun, Ranata memang masih kelas Dua SD. Sekolah Renata cukup jauh dari rumahnya, sekitar lima km yang ditempuh dengan naik motor, mama sendirian.
”Renata, ayo tidur. Sudah malam, ayah dan bunda tidak usah dipikirkan. Mereka pulang besok malam. ” Kata pembantu Renata.
Dengan langkah limbung Renata menuju kamarnya. Lampu kamar dimatikannya. Pembantu Renata mengunci semua pintu. Sekolah Renata adalah Elementary School Rockmode. Di rumah Renata juga ada pembantu. Jadi, Renata agar tidak ada penjahat masuk, dan mematikan semua lampu.
“ Tek tek tek.“ Semua lampu sudah dimatikan.
Diam-diam dari semak-semak luar ada dua orang yang mengintai rumah Renata yang kaya raya.
“Aman,ayo kita curi isi rumah ini!“ Kata salah satu dari pencuri itu.
Pintu depan rumah Renata memang sudah tua, dan di sebelah pintu ada alarm pencuri, jadi jika yang masuk orang yang tidak ada di memory alarm akan berbunyi kecuali di program dulu. Karena pencuri itu tidak sadar, tiba-tiba “Tilulit tilulit tilulit!!!! “ Alarm berbunyi sangat keras sehingga semua orang yang sedang Pesta kalang kabut dan bereriak-teriak histeris.
“Tenang semuanya, itu hanya alarm rumah saya, berarti dirumah saya ada pencuri.“ Kata ayah Renata dengan tegas.
Renata dan pembantunya langsung keluar rumah, bersamaan dengan orang-orang yang sedang Pesta yang sudah siap membawa pentungan tiap orang satu.
Renata langsung membuka pintu depan, “pak Kogoro dan pak Roni sedang apa ? Jangan-jangan bapak mau mencuri barang-barang ayahku ya!” Kata Renata dengan curiga. “Iya-iya, kalian berdua akan mencuri ya” teriak warga yang sedang berpesta.
“Tidak-tidak aku tidak bermaksud mencuri tapi aku dan pak Roni sedang kehabisan uang untuk membayar kontrakan rumah. Jadi aku dan pak Roni ingin mengambil satu barang yang berharga milik pak Daniel.“ Kata pak Kogoro menjalaskan.
“Jika kau kehabisan uang untuk membayar kontrakanmu kenapa kau tidak meminta baik-baik uang” Pak Daniel menegaskan.
“Kalau begitu saya meminta maaf sebesar-besarnya.“ Kata pak Kogoro meminta maaf atas kesalahannya.
“Makanya, kenapa begitu? “Kta pak Daniel menegaskan yang terakhir kalinya.
(24 Mei 2006)
Wednesday, September 06, 2006
Aku dan Dia
Disaat itu aku dan dia sedang senang bercanda ria
Kita yang sejati tak ada kata emosi pada diri kita
Aku menyukai sifat dirimu
Karna kau sejati, rendah hati, dan tidak pernah sombong
Kau yang pemalu tak merusak hatimu
Kau tetap baik seperti yang dulu
Oh..... sahabat, aku tak akan melupakanmu
Aku meyakinkanmu, dan aku berjanji tak akan melupakanmu
Kita yang sejati tak ada kata emosi pada diri kita
Aku menyukai sifat dirimu
Karna kau sejati, rendah hati, dan tidak pernah sombong
Kau yang pemalu tak merusak hatimu
Kau tetap baik seperti yang dulu
Oh..... sahabat, aku tak akan melupakanmu
Aku meyakinkanmu, dan aku berjanji tak akan melupakanmu
Tuesday, September 05, 2006
Jika Kenanganku Diabaikan
Kuberikan kenangan untuk temanku
Dia selalu berucap
kenanganku selalu dikenangnya
Jika ku menanyakan kabarnya
dia selalu menjawab
“Aku baik-baik saja”
Dia selalu berucap
kenanganku selalu dikenangnya
Jika ku menanyakan kabarnya
dia selalu menjawab
“Aku baik-baik saja”
Subscribe to:
Posts (Atom)
