Wednesday, June 06, 2007

Oh... No!!!!!

Sebentar lagi UAS tapi, Erliza masih sibuk dengan kesibukannya. Dia harus bolak-balik kesana-kemari untuk shooting film perdana terbaru. "Pelangi" begitulah judul filmnya. Setiap hari Selasa, Rabu, Jum'at dan Sabtu Erliza hanya sekolah setengah hati hanya sampai jam 10.30. Erliza berperan menjadi peran utama. Namanya diganti menjadi Fani. Ceritanya, Fani (Erliza) ingin melihat pelangi yang pertama kalinya, karena, dia matanya dari lahir sudah buta, dan akan di operasi tanggal 17 Juni 2007. Selagi break shoot, Fani belajar. Tapi, dia hanya belajar sedikit, dan dia lebih sering mendengarkan komentar om sutradara, yaitu om Dhani Purnawan.
Nah... sekarang hari senin tanggal 11 Juni 2007, UAS sedang berlangsung di SD Cempaka Putih. Sekarang, Erliza sedang sibuk mengerjakan soal ulangan, bukan shoot lagi. Bu Tini yang menjadi pengawas kelas 5, sekarang sedang memperhatikan anak-anak. Memang, Bu Tinilah, gutu yang paling tegas dan, kalau marah menyeramkan di kelas 5B. Tidak terasa, UAS sudah selesai. Erliza sangat gembira! Kabar dari om Dhani sangat membahagiakan. Film perdana itu sudah akan di putar di sebuah stasiun ++TV. mulai hari besok tanggal 19 Juni 2007! Teman Erliza se-kelas semuanya, menonton ++TV! Pembagian rapot se-hari lagi. Jantung Erliza Dag...Dig...Dug... Mama Erliza mengambil rapot Erliza. Saat Erliza buka....

Matematika : 5,28 Rata-Rata
B. Indonesia: 7,21 7,68
Sains : 6,12 8,74
PPKN : 7,37 7,57
IPS : 8,01 8,59
Agama Islam : 8,70 8.65
B. Inggris : 7,55 8,52
Menggambar : 9,79 8,97
Ekstrakulikuler,
Drum Band

Semuanya merah! Kecuali menggambar! Oh... No!!!!!!
Erliza dimarahi mamanya dan dia, di larang shoot lagi!
Di ++TV sudah tidak ada Erliza lagi. Dan setiap ada pewawancara yang datang, mama Erliza menghalang-halangi.
Da... da... Erliza.............
Bandung, 6 Juni 2007

Friday, April 13, 2007

The KosPas Band


Saat aku bermain kerumah Yohan saudaraku, ada dua orang laki-laki di ruang TV atas. Lalu aku dikenalkan dengan dua orang laki-laki itu. namanya Vio dan Andi. Mereka senang menerimaku. Lalu, kebetulan ada temanku yang ikut aku Michiko namanya. Mereka kukenalkan pada Michiko.

Aku sampai rumah berfikir. Aku bisa menyanyi, Yohan gitar elektrik, Vio gitar bass dan bass, Michiko keyboard. "Bagaimana kalau kita membuat band saja ya." Pikirku dalam hati. Ketika malam, Yohan main kerumahku, ku beri tahukan usulku. Yohan setuju banget. "Stuju, stuju. Stuju b-g-t!" katanya. Memang kata b-g-t lagi ngetren waktu itu.

Setelah kita membuat band, kita latihan dirumah Michiko. Kita berlatih, sampai menciptakan lagu yang berjudul "LOOK!!". Lagu kebangsaannya "LOOK!!" juga. Bandku diundang keacara 17 Agustus-an di kompleksnya Yohan. Kita tampil dengan sempurna.

Tiba saatnya aku harus pindah ke Bandung. Yohan, Vio, Michiko, dan Andi terlihat sedih. Rambut Michiko yang penjang menutupi kepalanya karena ia menunduk.

"Siapa nanti yang akan menjadi vokalis lagi???" Tanya Michiko begitu sedih.

"Tenanglah. Pasti ada gantinya." Balasku sedikit menghibur Michiko.

Aku jadi ikut sedih. Mobilku melaju meninggalkan teman-teman terbaikku.

Selamat tinggal teman-teman.

............... Selamat tinggal Jakarta...............

(Bandung, 1 Maret 2007)

Thursday, March 29, 2007

Diludahin Orang Gila

Waktu itu aku sedang menonton gerak jalan Bandung Lautan Api, tanggal 24 Maret 2007. Sedang asik-asiknya nonton, lalu ada orang yang berpakaian lucu, seperti pakaian pahlawan, karena terbiasa tertawaku sambil merem, aku di ludahin orang gila kalau nggak salah liat, berbaju warna hijau bunga-bunga dan memakai celana warna merah yang di gulung. Karena dia ngeludahinnya dua kali aku jadi takut. Saat diludahin yang kedua kalinya, aku bersembunyi di balik badan Ayahku. Ternyata kaki kananku kena ludahnya aku langsung nangis. Untungnya Mamaku bawa air minum kakiku disiranm dengan air itu. Dari situ aku kapok kalau bertemu Ibu-ibu yang berbadan pendek. Lalu, kata Mamaku dia nunjuk-nunjuk aku dua kali. “Mungkin dia nggak suka anak kecil.” Jika bertemu Ibu-ibu berbadan pendek, pasti aku langsung bersembunyi di balik badan Ayahku.

Saturday, February 24, 2007

Pedagang Sahabatku

Pedagang........
Apkah kau tidak kelelahan?
Kau tawarkan barangmu
Kau tawarkan dari pagi hingga malam

Kadang kala kau bersendagurau
Menghibur pembeli yang sedang memilih barangmu
Kau berpantun, pantun jenaka
Yang membuat pembeli tertawa

Kau sungguh baik padaku
Kau bekerja keras untuk keluargamu
Kautak pernah mengeluh
Meskipun dingin menyelimuti tubuhmu

Kau sungguh mengesankan
Trimakasih, kau telah menolongku
Trimakasih pedagang........


[bandung, 23 feb 2007]

Tuesday, February 13, 2007

Soal Yang Rumit Dari Bu Rita

"Aduh..., kok susah banget sih. Dasar Bu Rita! Soal Matematika, susah banget. Gampangan dikit kenapa ....?" Kata Rani
"Hussy... kamu itu jangan begitu dong" kata Kak Rini, kakaknya Rani begitu mendenganr keluhan Rani.
"Hey, hey... jangan bertengkar" kata Mama, saat mendengar pembicaraan Rani dan kakaknya.
"Kami tidak bertengkar kok, Ma" protes Rani.
"Tidak bertengkar tapi bicaranya kok nadanya seperti bertengkar. Yang baik dan halus dong bicaranya, kalian kan anak-anak perempuan, bicaranya harus yang santun dan tidak boleh seperti orang bertengkar" nasehat Mama panjang lebar.
"Memangnya apa sih yang dibicarakan?" lanjut Mama dengan penuh tanda tanya.
"Ini lho, Ma. Bu Rita ngasih PR matematika rumit banget deh soalnya" Jawab Rini, berusaha menjelaskan kepada Mamanya.
"Ohh... begitu," kata Mama "Jadi kalian tidak bertengkar toh...?" Mama mulai memahami keluhan Rani.
"Rumit bagaimana sih soalnya. Mari Mama bantu menjawabnya" bujuk Mama.
 
Dengan telaten Mama membantu Rani mengerjakan PR matematika yang katanya rumit sekali.
Setelah dijelaskan panjang lebar oleh mama, akhirnya Rani dapat mengerjakan PR dengan cepat dan benar semuanya.
 
"Wah..., wah..., hebat ya anak Mama sekarang. Sudah dapat mengerjakan soal matematika yang rumit dengan cepat dan benar pula" lanjut Mama panjang lebar.
"Sesungguhnya tidak ada soal matematika atau soal pelajaran apapun yang sulit, asal kita mau berusaha memahami, mempelajari dan belajar dengan rajin, pasti kita dapat menyelesaikannya dengan baik" urai Mama.
 
Sejak saat itu Rani tidak pernah mengeluh lagi tentang soal PR dari Bu Rita maupun soal ataupun PR dari Bapak dan Ibu Guru lain yang rumit ataupun sulit asalkan kita mau belajar dengan rajin pasti semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik.
 
[Bekasi, 20 Maret 2005]