Disebuah negara yang bernama Rockmode tinggalah seorang anak bersama orang tunya. Anak itu bernama Renata Finnia atau biasa dipanggil Renata. Pada suatu hari Renata ditinggal orang tuanya pergi ke Pesta Humachara yang diadakan di luar kota setiap tahun di musim salju. Tapi sayang, anak kecil tidak boleh ikut, seperti Renata. Memang umur Renata masih enam tahun. Ranata memang masih kelas Dua SD. Sekolah Renata cukup jauh dari rumahnya, sekitar lima kilo meter. Sekolah Renata adalah Elementary School of Rockmode.
Di rumah Renata juga ada pembantu. Jadi, meskipun Ayah dan Ibu sangat sibuk dengan pekerjaannya, Renata tidak sendirian.
”Renata!, Ayo tidur. Sudah malam. Ayah dan Bunda tidak usah dipikirkan. Mereka sekarang sedang mengikuti pesta Humachara di luar kota sehingga pulang besok malam” Kata pembantu Renata.
Dengan langkah malas, Renata menuju kamarnya. Lampu kamar lalu dimatikannya. Kemudian pembantu Renata mengunci semua pintu rumah agar tidak ada penjahat masuk dan mematikan semua lampu “Tek, tek, tek.“ Semua lampu padam. Gelap menyelimuti seisi rumah.
Diam-diam dari semak-semak di luar ada bayangan hitam yang bergerak-gerak. Bayangan hitam yang sangat misterius. Bayangan itu nampak mengendap-endap dan mengintai rumah Pak Daniel, ayah Renata.
Siapakah bayangan hitam yang sangat misterius itu?
Apakah dia hantu? Atau orang yang berniat jahat?
“Aman. Ayo kita curi isi rumah ini!“ kata salah satu dari bayangan hitam itu. Ternyata bayangan hitam itu adalah orang yang berniat jahat. Dia adalah kawanan pencuri yang mengincar rumah Renata.
“Ayo cepat!” sambut kawannya yang seorang lagi.
Meskipun pintu depan rumah Renata nampak sudah tua, tapi sebenarnya sangat kokoh. Dan di sebelah pintu, di tempat yang sangat tersembunyi terdapat sensor alarm pencuri. Jadi jika ada orang masuk namun tidak dikenal atau tidak ada dalam memory, maka alarm akan berbunyi. Karena para pencuri itu tidak tahu kalau rumah Renata dipasangi alarm, maka ketika pencuri itu mendekati pintu, tanpa sadar, tiba-tiba “tilulit….. tilulit….. tilulit….!!!!“ Alarm berbunyi sangat keras sehingga mengagetkan kawanan pencuri itu dan menarik perhatian semua orang yang sedang lalu lalang di depan rumah Renata, termasuk para satpam yang sedang melakukan ronda malam.
“Ada pencuri di rumah Pak Daniel!” Teriak Satpam.
“Ayo kita tangkap” sahut yang lainnya.
Semua orang lalu berlarian mendatangi sumber suara. Semuanya berlari ke rumah Renata. Dan para pencuri itupun tak sempat melarikan diri karena sudah terkurung. Mereka lalu ditangkap pak Satpam.
Mendengar suara alarm dan ribu-ribut di luar, Renata dan pembantunya langsung membuka pintu dan keluar rumah. Namun betapa kagetnya Renata, ternyata orang yang berniat mencuri itu adalah orang yang sudah dikenalnya.
“Pak Kogoro dan Pak Roni ada apa? Apakah bapak mau mencuri di rumah saya?!” Tanya Renata dengan curiga.
“Iya...iya, kalian berdua mau mencuri ya?” teriak warga yang sudah berkerumaun.
“Tidak…tidak…. Aku tidak bermaksud mencuri.”
“lalu kenapa kamu mengendap-endap rumah pak Daniel seperti pencuri” selidik Pak Satpam.
“Saya dan Pak Roni sedang kehabisan uang untuk membayar kontrakan rumah. Jadi saya dan pak Roni ingin mengambil satu barang yang berharga milik pak Daniel“ Kata pak Kogoro menjelaskan.
“Jika kau kehabisan uang untuk membayar kontrakanmu, kenapa kau tidak meminta baik-baik kepada ayahku?” kata Renata.
“Iya, kenapa kamu berniat mencuri? Tanya warga yang lain hampir bersamaan.
“Kalau begitu saya minta maaf yang sebesar-besarnya“ Kata pak Kogoro meminta maaf atas kesalahannya.
“Makanya, jangan mencuri! Lebih baik meminta dengan jujur“ Kata Pak Satpam sambil membawa kawanan pencuri itu ke pos Satpam.
(24 Mei 2006)
Wednesday, November 22, 2006
Sarapan Pagi
Pulang sekolah Nabila berjalan dengan lesu sambil menendang kerikil. Tiba-tiba dua orang teman Nabila datang, Ghea dan Ica.
”Lho, kok ada yang tidur di tengah jalan?” kata Ica kaget.
”Kok tidur dijalan?! Mungkin dia pingsan!” kata Ghea mendadak. Kedua anak itu takut dan dia berpelukan.
Ghea dan Ica menghampiri anak yang tidur di jalan itu.
”Ya ampun ternyata Nabila!” kata Ghea setengah memekik.
”Tolong…!! Tolong…!!! Nabila Pingsan!!!” Ica berteriak histeris.
Anak kelas tigapun segera datang karena mendengar teriakan Ica yang sangat keras. Nabila langsung dibawa ke kelas. AC kelas yang sudah dimatikan karena memang sudah waktunya puang langsung dinyalakan lagi. Sebagian teman-teman Nabila yang belum pulang menolong Nabila termasuk Fajar. Sedikit demi sedikit mata Nabila terbuka.
”Horeeeeeeeeeee……….!! Nabila sadar………!!” Sorak anak-anak semua yang berkerumun.
”Ada apa?!” kataku dengan suara kecil dan terbata-bata.
”Kamu tadi pingsan. Ada apa, Nabila?“
Aku terdiam. Malu untuk mengatakan sejujurnya. Aku malu mengatakan kalau tadi pagi aku menolak sarapan yang telah dengan susah payah disiapkan Mama. ”Ayo, sayang sarapanlah dulu. Ini Mama sudah masak untukmu. Makanlah nanti kamu pingsan, kalau tidak mau sarapan“ kata Mama cemas tadi pagi. Dan kekhawatiran Mama ternyata menjadi kenyataan. Aku jatuh pingsan di jalan saat pulang sekolah karena sudah tidak kuat lagi menahan lapar.
Aku jadi malu menyadari bahwa sarapan ternyata sangat berguna untuk menjaga kekuatan tubuh. Sarapan ternyata berguna untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Mulai besok pagi, aku takkan menyia-nyiakan sarapan yang telah disiapkan Mama. Aku jadi teringat anak-anak seumurku yang mengamen di perempatan jalan. Yang selalu kutemui pagi hari saat berangkat sekolah. Mereka meminta-minta di perempatan jalan hanya sekedar untuk mencari makan. Sedangkan aku mengapa tidak juga mau sarapan sementara sudah disajikan di atas meja makan? Betapa malunya aku menyadari itu.
”Lho, kok ada yang tidur di tengah jalan?” kata Ica kaget.
”Kok tidur dijalan?! Mungkin dia pingsan!” kata Ghea mendadak. Kedua anak itu takut dan dia berpelukan.
Ghea dan Ica menghampiri anak yang tidur di jalan itu.
”Ya ampun ternyata Nabila!” kata Ghea setengah memekik.
”Tolong…!! Tolong…!!! Nabila Pingsan!!!” Ica berteriak histeris.
Anak kelas tigapun segera datang karena mendengar teriakan Ica yang sangat keras. Nabila langsung dibawa ke kelas. AC kelas yang sudah dimatikan karena memang sudah waktunya puang langsung dinyalakan lagi. Sebagian teman-teman Nabila yang belum pulang menolong Nabila termasuk Fajar. Sedikit demi sedikit mata Nabila terbuka.
”Horeeeeeeeeeee……….!! Nabila sadar………!!” Sorak anak-anak semua yang berkerumun.
”Ada apa?!” kataku dengan suara kecil dan terbata-bata.
”Kamu tadi pingsan. Ada apa, Nabila?“
Aku terdiam. Malu untuk mengatakan sejujurnya. Aku malu mengatakan kalau tadi pagi aku menolak sarapan yang telah dengan susah payah disiapkan Mama. ”Ayo, sayang sarapanlah dulu. Ini Mama sudah masak untukmu. Makanlah nanti kamu pingsan, kalau tidak mau sarapan“ kata Mama cemas tadi pagi. Dan kekhawatiran Mama ternyata menjadi kenyataan. Aku jatuh pingsan di jalan saat pulang sekolah karena sudah tidak kuat lagi menahan lapar.
Aku jadi malu menyadari bahwa sarapan ternyata sangat berguna untuk menjaga kekuatan tubuh. Sarapan ternyata berguna untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Mulai besok pagi, aku takkan menyia-nyiakan sarapan yang telah disiapkan Mama. Aku jadi teringat anak-anak seumurku yang mengamen di perempatan jalan. Yang selalu kutemui pagi hari saat berangkat sekolah. Mereka meminta-minta di perempatan jalan hanya sekedar untuk mencari makan. Sedangkan aku mengapa tidak juga mau sarapan sementara sudah disajikan di atas meja makan? Betapa malunya aku menyadari itu.
Tuesday, November 14, 2006
Dua Sahabat
Disebuah kota tinggallah Beruang Madu yang bernama Ivan. Beruang Madu itu punya sahabat yang sangat banyak dari mulai lebah-leba sampai semut-semut kecil. Ternyata di Negeri Kutub Utara ada Beruang yang kesepian. Beruang itu bernama Yovie. beruang itu tidak mempunyai ayah dan ibu. Beruang itu sangat kesepian, dia hanya mempunyai satu teman yaitu ikan yang tinggal di laut Kutub. Nama ikan itu Ayu. Ketika itu Ayu dalam kesulitan laut Kutub ham pir membeku. Memang Yovie memiliki sifat yang baik. Dia segera membantu Ayu. " Ada apa Ayu?" Tanya Yovie. "Lihat, laut hampir membeku dan aku kedinginan. Jarak yang sangat dekat itu membuatku takut. Kira-kira tinggal dua meter lagi!" Jawab Ayu. Yovie cepat-cepat membawqa Ayu ke rumahnya hang agak hangat. Disana ada kolam ikan yang sangaaaaaaaaat luas. Jadi cukup untuk tinggal Ayu. Ayu merasa lega karna tidak akan terancam bahaya. Ternyata benar laut Kutub tiga hari kemudian membeku.
Lalu bagaimana keadaan Beruang Madu?
Tunggu ceritaku selanjutnya.....
Bersambung.......
Lalu bagaimana keadaan Beruang Madu?
Tunggu ceritaku selanjutnya.....
Bersambung.......
Subscribe to:
Posts (Atom)
