Thursday, April 16, 2009

Kisah Pololembro dan sang Gajah

Pada suau dusun, tinggalah seekor kurcaci. Kurcaci itu bernama Pololembro. Dia hidup seorang diri. Dia sudah tua, tetapi dia tidak nampak tua. Setiap hari dia bekerja di ladang. Pololembro ini berhati baik, namun ia sangatlah bodoh. Dulu ia seorang yang sukses. Namun, ia ditipu. Jadilah sekarang ia bangkrut dan menjadi miskin. Anaknya pergi entah kemana. Dan istrinya meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Pololembro sedingkit angkuh, sombong dan pelit. Karena ia merasa ia pernah sukses.
Pada suatu hari, ada seorang gajah menghampirinya untuk meminta sedikit rumput dari ladangnya.
"Pololembro... Boleh kah saya meminta sedikit rumput untuk saya makan? Sudah seharian saya belum makan. Saya lapar pololembro..." Kata sang gajah.
"Buat apa kau meminta rumput di ladangku? Carilah di ladang lain! Atau kau cari di pinggiran jalan dan dusun!" Bentak Pololembro.
"Saya sudah meminta di ladang orang lain... Tetapi mereka semua tidak memberi. Mereka pikir, aku akan menghabiskan semuanya karena saya akan menghabiskan semuanya karena mereka pikir saya rakus karena tubuh saya yang besar ini."
"Memang kau rakus!! Tidak! Aku tidak akan memberikan rumputku padamu! nanti rumputku habis! Dan akhirnya aku tidak bisa meladang lagi!"
"Aku meminta rumputmu sekali ini saja.... Aku sangat lapar."
"Apakah kau tidak bisa cari dipinggiran sungai? Disana kau bisa langsung minum! tidak meminta lagi kepadaku!"
"Ya sudah..."
Sang gajah meninggalkan rumah Pololembro dengan wajah sedih dan kecewa. Karena ia sudah sangat lapar. Gajah pun pergi ke sungai. Ia tidak meenmukan rumput disana. Ia hanya minum. lalu ia melanjutkan kembali perjalanannya ke ujung dusun. di sana rumpu baru saja ditebas. ia pun kecewa.lalu ia berjalan lagi sapai pinggir dusun. disana ada sdikit rumput. ia pun memakannya. dalam sekejap rumput-rumput itu sudah habis. karena rumput yang ada hanya sedikit sekali. gajah pun kembali ke sungan. ia inum disungai dengan puas. lama kelamaan perutnya menjadi kembung. ia pun pulang ke rumahnya. seesampainya di rumah, ia diserbu warga dusun.
"rumput diladangku habis!!! pasti kau yang memankannya!" teriak seorang penduduk dusun.
"iya betul!!!!! rumput-rumput di ladangku habis!!pasti kau mencurinya!" sahut para warga lainnya.
"ampun! ampuuuuun! saya tidak sekeji itu! saya tidak akan mencuri! saya tidak pernah mencuri!" teriak gajah
"aaaaah!! kau pasti bohong! mana ada maling mengaku!" sahut seorang warga.
"tapi memang bukan saya!!" balas gajah.

Tiba-tiba gajah dikeroyok oleh warga dusun, kecuali pololembro. seorang warga bertanya pada pololembro. "mengapa kau renang-tenang saja? kau tidak kehilangan rumput?" pololembro hanya membalasnya dengan senyuman. warga itu pergi dengan raut wajah yang aneh.
sang gajah cepat-cepat lari kedalam rumah. dan ia menangis di dalam rumahnya. "mengapa semuanya menuduhku yang mencuri rumput mereka?? padahal aku tidak mencurinya... aku tidak akan berbuat sejahat itu... aku masih bisa mencari rumput ditempat lain!" ucapnya disela tangisannya.

Tiba-tiba... "tok... tok... tok..." sang gajah buru-buru menghapus air matanya. lalu ia membukakan pintu. ternyata yang mengetuk pintu adalah salah satu warga yang mengeroyokinya tadi. "mau apalagi kau kesini? mau memukuliku lagi?? sudah ku bilang aku tidak mencuri rumputmu!" bentak sang gajah karena refleks
"bukan.. bukan maksudku datang kesini untuk memaarahimu lagi. aku meminta maaf soal yang tadi. sekarang aku minta bantuanmu. apakah kau mau membantuku?" kata warga tersebut." "bantuan apa?" taya gajah.
"ini... saudaaku datang keruahku. anaknya mmau naik kuda. tetapi disekitar sini tidak ada kuda. maukah kau membantuku? nanti kau di naiki keponakanku." pinta sang warga.
"hmmm.... boleh saja. asal jangan lama-lama ya.nanti punggungku sakit."
"terimakasih gajah.........."
gajahpun dinaiki keponakan warga tersebut. sudah setengah jam sang gajah berputar-putar mengelilingi dusun. anak itu tidak mau turun. punggung gajah sudah mulai sakit. gajahpun enyuruhnya turun. karena ia sudah kesakitan. anak itu marah. ia turun dari gajah, lalu menendangnya. gajah berteriak kesakitan. warga itu pun pergi sambil mencemooh sang gajah. sang gajah terlihat sedih.
pada suatu hari, ada seorang warga yang melihat kalau pololembrolah yang mencuri rumput di ladang para warga. pololembro tertangkap basah oleh warga. segerombolan warga mencacimakinya. gajah anya bisa tersenyum melihat semuanya. dan seluruh warga meminta maaf kepada gajah. karena sudah menuduh gajah yang tidak-tidak. dan warga yang pernah memintanya menjadi tumpangan meminta maaf. karena, setelah keponakannya naik dan jalan-jalan dipunggung gajah. dia hanya datang saat butuh. ketika ia sudah tidak butuh, ia tidak datang lagi. dan ia malah mencemooh gajah di depan warga lainnya.

Wednesday, August 27, 2008

Selamat Datang Di Dunia PhadLast

SMP. Inilah sekolah yang kutunggu-tunggu selama satu tahun. SMP, dari nama itu aku lebih giat belajar. SMP, dari nama itu juga aku menjadi lebih dewasa. Ini kisah nyata. Kisahku selama satu tahun duduk di bangku kelas enam dengan bimbingan guruku tercintra, Pak Wanda. Aku dan teman-teman satu kelas, menginginkan SMP favorit. Seperti SMP 5, SMP 2, SMP 7, dan yang lainya. Dari awal, semenjak aku pindah ke Bandung, SMP 5 adalah SMP yang paling aku cita-citakan. Demikian juga teman-temanku, mereka memilih SMP 5 atau SMP 2.

Pada waktu itu, teman-temanku dan aku, tidak ada yang mencita-citakan, "saya ingin masuk SMP 7!" atau "saya ingin masuk SMP 14!". Tidak ada kata-kata seperti itu yang terlontar dari mulut. Memang, di kelasku ada yang bercita-cita ingin masuk SMP 7, SMP 9, SMP 1, dan yang lainnya. Tapi itu hanya sedikit. Sedikiiiiit sekali. Mungkin hanya dua atau tiga orang yang berkata seperti itu. Satu tahun kami di bimbing Pak Wanda. Dengan sabar Pak Wanda membina kami. Mengajarkan kami dengan sepenuh hati. Menegur kami dengan halus. Dan jika kami nakal, nilai-nilainya jelek, Pak Wanda tetap mengajarkan kami sampai kami bisa melakukan yang terbaik. Walaupun kelas kami sempat tertinggal. Bab yang di pelajari itu itu saja. Ada temanku, yang kurang bisa atau kurang tanggap untuk menerima pelajaran. Berulang-ulang kali guruku menjelaskan bab itu. Dan, beberapa minggu lagi UASBN segera di mulai. Rasa gelisah mulai muncul di hati kami. Rasa was-was, sedih, bingung, dan panik muncul secara tiba-tiba. Guru kami menenangkan.

Saat UASBN pun, tiba. Kami berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku mendapatkan ruang 113. Teman-temanku di ruang 111 dan 112. Di sekolah, kami saling bertanya. "Sudah belajar yang ini?", pasti menjadi inti dari pertanyaan-pertanyaan kami. Selain harus membawa papan alas, kami juga di haruskan memakai kartu pengenal yang berwarna hijau. Warna yang lebih identik melambangkan Banjarsari. Bel tanda masuk berbunyi. Pengawas datang. Ketika pengawas masuk, kami mengucapkan salam. Pengawasnya tidak seperti yang ku kira. Pengawas di ruanganku baik-baik.

Sudah lima hari kami melaksanakan UASBN dan UAN. Hari keenam adalah hari terakhir. Kami dengan suka cita berangkat ke sekolah. Hari yang menyenangkan. Kami sudah selesai mengerjakan soal. Jarum jam mendekati angka sepuluh pas. Kami melihat jam terus menerus. Ketika menit terakhir, yang ada di ruangan kami menghitung mundur dari lima puluh sembilan, sampai nol. Setelah nol, bel tanda selesainya ujian berbunyi. Kami senang bukan kepalang. Di ruang ujianku, kami berteriak-teriak kesenangan. Aku yang berkomando, berteriak "MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!". Semuanya mengikuti, kecuali guru. Aku bingung sendiri. Aku bersekolah di Banjarsari, tetapi aku menyebut Merdeka. Hahahaha! Hanya ungkapan kemerdekaan bebas dari belajar selama satu bulan

Tanggal 21 Juni 2008, juga menjadi tanggal yang menegangkan. Dimana di tanggal itu kita harus menerima kenyataan. Pembagian NEM. Setelah aku masuk kedalam kelas, dan keluar kelas dengan membawa amplop berisi. Entah apa isinya. Sesampainya di mobil, aku membuka amplop itu dengan sangat hati-hati. Ternyata, di dalam amplop itu berisi pemberitahuan tentang berapa NEMku, dan lulus atau tidaknya aku. Kalau lulus sudah pasti. Tapi, NEMku berapa? Jantungku berdebar-debar. Setelah dilihat, ternyata NEMku 25.50. Awalnya aku senang. Ternyata setelah dilihat, dengan NEMku, aku tidak bisa masuk ke SMP 5 atau SMP 2. Sedih memang rasanya. Sedih sekali. Sekolah impianku, lenyap seketika. NEMku hanya bisa untuk masuk ke SMP 14, SMP 7, SMP 1, dan SMP-SMP lain yang berada di bawahnya. Akhirnya, dengan berat hati aku masuk ke SMP 14. SMP 14 memang cluster 1 dan peringkat ke tiga di cluster satu. Dengan sangat berat hati aku melangkah untuk menjelajahi dunia 14. Tapi setelah aku bergaul, berteman, tenyata di SMP 14 mengasyikkan juga. Tidak seperti SMP yang lainnya. Di SMP 14 toiletnya bersih, bagus, terawat. Kelasku juga ada speaker, in-focus, dan sebentar lagi akan dipasang AC. Selamat datang, Abel di dunia phadlast....

Wednesday, June 06, 2007

Oh... No!!!!!

Sebentar lagi UAS tapi, Erliza masih sibuk dengan kesibukannya. Dia harus bolak-balik kesana-kemari untuk shooting film perdana terbaru. "Pelangi" begitulah judul filmnya. Setiap hari Selasa, Rabu, Jum'at dan Sabtu Erliza hanya sekolah setengah hati hanya sampai jam 10.30. Erliza berperan menjadi peran utama. Namanya diganti menjadi Fani. Ceritanya, Fani (Erliza) ingin melihat pelangi yang pertama kalinya, karena, dia matanya dari lahir sudah buta, dan akan di operasi tanggal 17 Juni 2007. Selagi break shoot, Fani belajar. Tapi, dia hanya belajar sedikit, dan dia lebih sering mendengarkan komentar om sutradara, yaitu om Dhani Purnawan.
Nah... sekarang hari senin tanggal 11 Juni 2007, UAS sedang berlangsung di SD Cempaka Putih. Sekarang, Erliza sedang sibuk mengerjakan soal ulangan, bukan shoot lagi. Bu Tini yang menjadi pengawas kelas 5, sekarang sedang memperhatikan anak-anak. Memang, Bu Tinilah, gutu yang paling tegas dan, kalau marah menyeramkan di kelas 5B. Tidak terasa, UAS sudah selesai. Erliza sangat gembira! Kabar dari om Dhani sangat membahagiakan. Film perdana itu sudah akan di putar di sebuah stasiun ++TV. mulai hari besok tanggal 19 Juni 2007! Teman Erliza se-kelas semuanya, menonton ++TV! Pembagian rapot se-hari lagi. Jantung Erliza Dag...Dig...Dug... Mama Erliza mengambil rapot Erliza. Saat Erliza buka....

Matematika : 5,28 Rata-Rata
B. Indonesia: 7,21 7,68
Sains : 6,12 8,74
PPKN : 7,37 7,57
IPS : 8,01 8,59
Agama Islam : 8,70 8.65
B. Inggris : 7,55 8,52
Menggambar : 9,79 8,97
Ekstrakulikuler,
Drum Band

Semuanya merah! Kecuali menggambar! Oh... No!!!!!!
Erliza dimarahi mamanya dan dia, di larang shoot lagi!
Di ++TV sudah tidak ada Erliza lagi. Dan setiap ada pewawancara yang datang, mama Erliza menghalang-halangi.
Da... da... Erliza.............
Bandung, 6 Juni 2007

Friday, April 13, 2007

The KosPas Band


Saat aku bermain kerumah Yohan saudaraku, ada dua orang laki-laki di ruang TV atas. Lalu aku dikenalkan dengan dua orang laki-laki itu. namanya Vio dan Andi. Mereka senang menerimaku. Lalu, kebetulan ada temanku yang ikut aku Michiko namanya. Mereka kukenalkan pada Michiko.

Aku sampai rumah berfikir. Aku bisa menyanyi, Yohan gitar elektrik, Vio gitar bass dan bass, Michiko keyboard. "Bagaimana kalau kita membuat band saja ya." Pikirku dalam hati. Ketika malam, Yohan main kerumahku, ku beri tahukan usulku. Yohan setuju banget. "Stuju, stuju. Stuju b-g-t!" katanya. Memang kata b-g-t lagi ngetren waktu itu.

Setelah kita membuat band, kita latihan dirumah Michiko. Kita berlatih, sampai menciptakan lagu yang berjudul "LOOK!!". Lagu kebangsaannya "LOOK!!" juga. Bandku diundang keacara 17 Agustus-an di kompleksnya Yohan. Kita tampil dengan sempurna.

Tiba saatnya aku harus pindah ke Bandung. Yohan, Vio, Michiko, dan Andi terlihat sedih. Rambut Michiko yang penjang menutupi kepalanya karena ia menunduk.

"Siapa nanti yang akan menjadi vokalis lagi???" Tanya Michiko begitu sedih.

"Tenanglah. Pasti ada gantinya." Balasku sedikit menghibur Michiko.

Aku jadi ikut sedih. Mobilku melaju meninggalkan teman-teman terbaikku.

Selamat tinggal teman-teman.

............... Selamat tinggal Jakarta...............

(Bandung, 1 Maret 2007)

Thursday, March 29, 2007

Diludahin Orang Gila

Waktu itu aku sedang menonton gerak jalan Bandung Lautan Api, tanggal 24 Maret 2007. Sedang asik-asiknya nonton, lalu ada orang yang berpakaian lucu, seperti pakaian pahlawan, karena terbiasa tertawaku sambil merem, aku di ludahin orang gila kalau nggak salah liat, berbaju warna hijau bunga-bunga dan memakai celana warna merah yang di gulung. Karena dia ngeludahinnya dua kali aku jadi takut. Saat diludahin yang kedua kalinya, aku bersembunyi di balik badan Ayahku. Ternyata kaki kananku kena ludahnya aku langsung nangis. Untungnya Mamaku bawa air minum kakiku disiranm dengan air itu. Dari situ aku kapok kalau bertemu Ibu-ibu yang berbadan pendek. Lalu, kata Mamaku dia nunjuk-nunjuk aku dua kali. “Mungkin dia nggak suka anak kecil.” Jika bertemu Ibu-ibu berbadan pendek, pasti aku langsung bersembunyi di balik badan Ayahku.

Saturday, February 24, 2007

Pedagang Sahabatku

Pedagang........
Apkah kau tidak kelelahan?
Kau tawarkan barangmu
Kau tawarkan dari pagi hingga malam

Kadang kala kau bersendagurau
Menghibur pembeli yang sedang memilih barangmu
Kau berpantun, pantun jenaka
Yang membuat pembeli tertawa

Kau sungguh baik padaku
Kau bekerja keras untuk keluargamu
Kautak pernah mengeluh
Meskipun dingin menyelimuti tubuhmu

Kau sungguh mengesankan
Trimakasih, kau telah menolongku
Trimakasih pedagang........


[bandung, 23 feb 2007]

Tuesday, February 13, 2007

Soal Yang Rumit Dari Bu Rita

"Aduh..., kok susah banget sih. Dasar Bu Rita! Soal Matematika, susah banget. Gampangan dikit kenapa ....?" Kata Rani
"Hussy... kamu itu jangan begitu dong" kata Kak Rini, kakaknya Rani begitu mendenganr keluhan Rani.
"Hey, hey... jangan bertengkar" kata Mama, saat mendengar pembicaraan Rani dan kakaknya.
"Kami tidak bertengkar kok, Ma" protes Rani.
"Tidak bertengkar tapi bicaranya kok nadanya seperti bertengkar. Yang baik dan halus dong bicaranya, kalian kan anak-anak perempuan, bicaranya harus yang santun dan tidak boleh seperti orang bertengkar" nasehat Mama panjang lebar.
"Memangnya apa sih yang dibicarakan?" lanjut Mama dengan penuh tanda tanya.
"Ini lho, Ma. Bu Rita ngasih PR matematika rumit banget deh soalnya" Jawab Rini, berusaha menjelaskan kepada Mamanya.
"Ohh... begitu," kata Mama "Jadi kalian tidak bertengkar toh...?" Mama mulai memahami keluhan Rani.
"Rumit bagaimana sih soalnya. Mari Mama bantu menjawabnya" bujuk Mama.
 
Dengan telaten Mama membantu Rani mengerjakan PR matematika yang katanya rumit sekali.
Setelah dijelaskan panjang lebar oleh mama, akhirnya Rani dapat mengerjakan PR dengan cepat dan benar semuanya.
 
"Wah..., wah..., hebat ya anak Mama sekarang. Sudah dapat mengerjakan soal matematika yang rumit dengan cepat dan benar pula" lanjut Mama panjang lebar.
"Sesungguhnya tidak ada soal matematika atau soal pelajaran apapun yang sulit, asal kita mau berusaha memahami, mempelajari dan belajar dengan rajin, pasti kita dapat menyelesaikannya dengan baik" urai Mama.
 
Sejak saat itu Rani tidak pernah mengeluh lagi tentang soal PR dari Bu Rita maupun soal ataupun PR dari Bapak dan Ibu Guru lain yang rumit ataupun sulit asalkan kita mau belajar dengan rajin pasti semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik.
 
[Bekasi, 20 Maret 2005]