Pada suau dusun, tinggalah seekor kurcaci. Kurcaci itu bernama Pololembro. Dia hidup seorang diri. Dia sudah tua, tetapi dia tidak nampak tua. Setiap hari dia bekerja di ladang. Pololembro ini berhati baik, namun ia sangatlah bodoh. Dulu ia seorang yang sukses. Namun, ia ditipu. Jadilah sekarang ia bangkrut dan menjadi miskin. Anaknya pergi entah kemana. Dan istrinya meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Pololembro sedingkit angkuh, sombong dan pelit. Karena ia merasa ia pernah sukses.
Pada suatu hari, ada seorang gajah menghampirinya untuk meminta sedikit rumput dari ladangnya.
"Pololembro... Boleh kah saya meminta sedikit rumput untuk saya makan? Sudah seharian saya belum makan. Saya lapar pololembro..." Kata sang gajah.
"Buat apa kau meminta rumput di ladangku? Carilah di ladang lain! Atau kau cari di pinggiran jalan dan dusun!" Bentak Pololembro.
"Saya sudah meminta di ladang orang lain... Tetapi mereka semua tidak memberi. Mereka pikir, aku akan menghabiskan semuanya karena saya akan menghabiskan semuanya karena mereka pikir saya rakus karena tubuh saya yang besar ini."
"Memang kau rakus!! Tidak! Aku tidak akan memberikan rumputku padamu! nanti rumputku habis! Dan akhirnya aku tidak bisa meladang lagi!"
"Aku meminta rumputmu sekali ini saja.... Aku sangat lapar."
"Apakah kau tidak bisa cari dipinggiran sungai? Disana kau bisa langsung minum! tidak meminta lagi kepadaku!"
"Ya sudah..."
Sang gajah meninggalkan rumah Pololembro dengan wajah sedih dan kecewa. Karena ia sudah sangat lapar. Gajah pun pergi ke sungai. Ia tidak meenmukan rumput disana. Ia hanya minum. lalu ia melanjutkan kembali perjalanannya ke ujung dusun. di sana rumpu baru saja ditebas. ia pun kecewa.lalu ia berjalan lagi sapai pinggir dusun. disana ada sdikit rumput. ia pun memakannya. dalam sekejap rumput-rumput itu sudah habis. karena rumput yang ada hanya sedikit sekali. gajah pun kembali ke sungan. ia inum disungai dengan puas. lama kelamaan perutnya menjadi kembung. ia pun pulang ke rumahnya. seesampainya di rumah, ia diserbu warga dusun.
"rumput diladangku habis!!! pasti kau yang memankannya!" teriak seorang penduduk dusun.
"iya betul!!!!! rumput-rumput di ladangku habis!!pasti kau mencurinya!" sahut para warga lainnya.
"ampun! ampuuuuun! saya tidak sekeji itu! saya tidak akan mencuri! saya tidak pernah mencuri!" teriak gajah
"aaaaah!! kau pasti bohong! mana ada maling mengaku!" sahut seorang warga.
"tapi memang bukan saya!!" balas gajah.
Tiba-tiba gajah dikeroyok oleh warga dusun, kecuali pololembro. seorang warga bertanya pada pololembro. "mengapa kau renang-tenang saja? kau tidak kehilangan rumput?" pololembro hanya membalasnya dengan senyuman. warga itu pergi dengan raut wajah yang aneh.
sang gajah cepat-cepat lari kedalam rumah. dan ia menangis di dalam rumahnya. "mengapa semuanya menuduhku yang mencuri rumput mereka?? padahal aku tidak mencurinya... aku tidak akan berbuat sejahat itu... aku masih bisa mencari rumput ditempat lain!" ucapnya disela tangisannya.
Tiba-tiba... "tok... tok... tok..." sang gajah buru-buru menghapus air matanya. lalu ia membukakan pintu. ternyata yang mengetuk pintu adalah salah satu warga yang mengeroyokinya tadi. "mau apalagi kau kesini? mau memukuliku lagi?? sudah ku bilang aku tidak mencuri rumputmu!" bentak sang gajah karena refleks
"bukan.. bukan maksudku datang kesini untuk memaarahimu lagi. aku meminta maaf soal yang tadi. sekarang aku minta bantuanmu. apakah kau mau membantuku?" kata warga tersebut." "bantuan apa?" taya gajah.
"ini... saudaaku datang keruahku. anaknya mmau naik kuda. tetapi disekitar sini tidak ada kuda. maukah kau membantuku? nanti kau di naiki keponakanku." pinta sang warga.
"hmmm.... boleh saja. asal jangan lama-lama ya.nanti punggungku sakit."
"terimakasih gajah.........."
gajahpun dinaiki keponakan warga tersebut. sudah setengah jam sang gajah berputar-putar mengelilingi dusun. anak itu tidak mau turun. punggung gajah sudah mulai sakit. gajahpun enyuruhnya turun. karena ia sudah kesakitan. anak itu marah. ia turun dari gajah, lalu menendangnya. gajah berteriak kesakitan. warga itu pun pergi sambil mencemooh sang gajah. sang gajah terlihat sedih.
pada suatu hari, ada seorang warga yang melihat kalau pololembrolah yang mencuri rumput di ladang para warga. pololembro tertangkap basah oleh warga. segerombolan warga mencacimakinya. gajah anya bisa tersenyum melihat semuanya. dan seluruh warga meminta maaf kepada gajah. karena sudah menuduh gajah yang tidak-tidak. dan warga yang pernah memintanya menjadi tumpangan meminta maaf. karena, setelah keponakannya naik dan jalan-jalan dipunggung gajah. dia hanya datang saat butuh. ketika ia sudah tidak butuh, ia tidak datang lagi. dan ia malah mencemooh gajah di depan warga lainnya.
Pada suatu hari, ada seorang gajah menghampirinya untuk meminta sedikit rumput dari ladangnya.
"Pololembro... Boleh kah saya meminta sedikit rumput untuk saya makan? Sudah seharian saya belum makan. Saya lapar pololembro..." Kata sang gajah.
"Buat apa kau meminta rumput di ladangku? Carilah di ladang lain! Atau kau cari di pinggiran jalan dan dusun!" Bentak Pololembro.
"Saya sudah meminta di ladang orang lain... Tetapi mereka semua tidak memberi. Mereka pikir, aku akan menghabiskan semuanya karena saya akan menghabiskan semuanya karena mereka pikir saya rakus karena tubuh saya yang besar ini."
"Memang kau rakus!! Tidak! Aku tidak akan memberikan rumputku padamu! nanti rumputku habis! Dan akhirnya aku tidak bisa meladang lagi!"
"Aku meminta rumputmu sekali ini saja.... Aku sangat lapar."
"Apakah kau tidak bisa cari dipinggiran sungai? Disana kau bisa langsung minum! tidak meminta lagi kepadaku!"
"Ya sudah..."
Sang gajah meninggalkan rumah Pololembro dengan wajah sedih dan kecewa. Karena ia sudah sangat lapar. Gajah pun pergi ke sungai. Ia tidak meenmukan rumput disana. Ia hanya minum. lalu ia melanjutkan kembali perjalanannya ke ujung dusun. di sana rumpu baru saja ditebas. ia pun kecewa.lalu ia berjalan lagi sapai pinggir dusun. disana ada sdikit rumput. ia pun memakannya. dalam sekejap rumput-rumput itu sudah habis. karena rumput yang ada hanya sedikit sekali. gajah pun kembali ke sungan. ia inum disungai dengan puas. lama kelamaan perutnya menjadi kembung. ia pun pulang ke rumahnya. seesampainya di rumah, ia diserbu warga dusun.
"rumput diladangku habis!!! pasti kau yang memankannya!" teriak seorang penduduk dusun.
"iya betul!!!!! rumput-rumput di ladangku habis!!pasti kau mencurinya!" sahut para warga lainnya.
"ampun! ampuuuuun! saya tidak sekeji itu! saya tidak akan mencuri! saya tidak pernah mencuri!" teriak gajah
"aaaaah!! kau pasti bohong! mana ada maling mengaku!" sahut seorang warga.
"tapi memang bukan saya!!" balas gajah.
Tiba-tiba gajah dikeroyok oleh warga dusun, kecuali pololembro. seorang warga bertanya pada pololembro. "mengapa kau renang-tenang saja? kau tidak kehilangan rumput?" pololembro hanya membalasnya dengan senyuman. warga itu pergi dengan raut wajah yang aneh.
sang gajah cepat-cepat lari kedalam rumah. dan ia menangis di dalam rumahnya. "mengapa semuanya menuduhku yang mencuri rumput mereka?? padahal aku tidak mencurinya... aku tidak akan berbuat sejahat itu... aku masih bisa mencari rumput ditempat lain!" ucapnya disela tangisannya.
Tiba-tiba... "tok... tok... tok..." sang gajah buru-buru menghapus air matanya. lalu ia membukakan pintu. ternyata yang mengetuk pintu adalah salah satu warga yang mengeroyokinya tadi. "mau apalagi kau kesini? mau memukuliku lagi?? sudah ku bilang aku tidak mencuri rumputmu!" bentak sang gajah karena refleks
"bukan.. bukan maksudku datang kesini untuk memaarahimu lagi. aku meminta maaf soal yang tadi. sekarang aku minta bantuanmu. apakah kau mau membantuku?" kata warga tersebut." "bantuan apa?" taya gajah.
"ini... saudaaku datang keruahku. anaknya mmau naik kuda. tetapi disekitar sini tidak ada kuda. maukah kau membantuku? nanti kau di naiki keponakanku." pinta sang warga.
"hmmm.... boleh saja. asal jangan lama-lama ya.nanti punggungku sakit."
"terimakasih gajah.........."
gajahpun dinaiki keponakan warga tersebut. sudah setengah jam sang gajah berputar-putar mengelilingi dusun. anak itu tidak mau turun. punggung gajah sudah mulai sakit. gajahpun enyuruhnya turun. karena ia sudah kesakitan. anak itu marah. ia turun dari gajah, lalu menendangnya. gajah berteriak kesakitan. warga itu pun pergi sambil mencemooh sang gajah. sang gajah terlihat sedih.
pada suatu hari, ada seorang warga yang melihat kalau pololembrolah yang mencuri rumput di ladang para warga. pololembro tertangkap basah oleh warga. segerombolan warga mencacimakinya. gajah anya bisa tersenyum melihat semuanya. dan seluruh warga meminta maaf kepada gajah. karena sudah menuduh gajah yang tidak-tidak. dan warga yang pernah memintanya menjadi tumpangan meminta maaf. karena, setelah keponakannya naik dan jalan-jalan dipunggung gajah. dia hanya datang saat butuh. ketika ia sudah tidak butuh, ia tidak datang lagi. dan ia malah mencemooh gajah di depan warga lainnya.


