SMP. Inilah sekolah yang kutunggu-tunggu selama satu tahun. SMP, dari nama itu aku lebih giat belajar. SMP, dari nama itu juga aku menjadi lebih dewasa. Ini kisah nyata. Kisahku selama satu tahun duduk di bangku kelas enam dengan bimbingan guruku tercintra, Pak Wanda. Aku dan teman-teman satu kelas, menginginkan SMP favorit. Seperti SMP 5, SMP 2, SMP 7, dan yang lainya. Dari awal, semenjak aku pindah ke Bandung, SMP 5 adalah SMP yang paling aku cita-citakan. Demikian juga teman-temanku, mereka memilih SMP 5 atau SMP 2.
Pada waktu itu, teman-temanku dan aku, tidak ada yang mencita-citakan, "saya ingin masuk SMP 7!" atau "saya ingin masuk SMP 14!". Tidak ada kata-kata seperti itu yang terlontar dari mulut. Memang, di kelasku ada yang bercita-cita ingin masuk SMP 7, SMP 9, SMP 1, dan yang lainnya. Tapi itu hanya sedikit. Sedikiiiiit sekali. Mungkin hanya dua atau tiga orang yang berkata seperti itu. Satu tahun kami di bimbing Pak Wanda. Dengan sabar Pak Wanda membina kami. Mengajarkan kami dengan sepenuh hati. Menegur kami dengan halus. Dan jika kami nakal, nilai-nilainya jelek, Pak Wanda tetap mengajarkan kami sampai kami bisa melakukan yang terbaik. Walaupun kelas kami sempat tertinggal. Bab yang di pelajari itu itu saja. Ada temanku, yang kurang bisa atau kurang tanggap untuk menerima pelajaran. Berulang-ulang kali guruku menjelaskan bab itu. Dan, beberapa minggu lagi UASBN segera di mulai. Rasa gelisah mulai muncul di hati kami. Rasa was-was, sedih, bingung, dan panik muncul secara tiba-tiba. Guru kami menenangkan.
Saat UASBN pun, tiba. Kami berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku mendapatkan ruang 113. Teman-temanku di ruang 111 dan 112. Di sekolah, kami saling bertanya. "Sudah belajar yang ini?", pasti menjadi inti dari pertanyaan-pertanyaan kami. Selain harus membawa papan alas, kami juga di haruskan memakai kartu pengenal yang berwarna hijau. Warna yang lebih identik melambangkan Banjarsari. Bel tanda masuk berbunyi. Pengawas datang. Ketika pengawas masuk, kami mengucapkan salam. Pengawasnya tidak seperti yang ku kira. Pengawas di ruanganku baik-baik.
Sudah lima hari kami melaksanakan UASBN dan UAN. Hari keenam adalah hari terakhir. Kami dengan suka cita berangkat ke sekolah. Hari yang menyenangkan. Kami sudah selesai mengerjakan soal. Jarum jam mendekati angka sepuluh pas. Kami melihat jam terus menerus. Ketika menit terakhir, yang ada di ruangan kami menghitung mundur dari lima puluh sembilan, sampai nol. Setelah nol, bel tanda selesainya ujian berbunyi. Kami senang bukan kepalang. Di ruang ujianku, kami berteriak-teriak kesenangan. Aku yang berkomando, berteriak "MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!". Semuanya mengikuti, kecuali guru. Aku bingung sendiri. Aku bersekolah di Banjarsari, tetapi aku menyebut Merdeka. Hahahaha! Hanya ungkapan kemerdekaan bebas dari belajar selama satu bulan
Tanggal 21 Juni 2008, juga menjadi tanggal yang menegangkan. Dimana di tanggal itu kita harus menerima kenyataan. Pembagian NEM. Setelah aku masuk kedalam kelas, dan keluar kelas dengan membawa amplop berisi. Entah apa isinya. Sesampainya di mobil, aku membuka amplop itu dengan sangat hati-hati. Ternyata, di dalam amplop itu berisi pemberitahuan tentang berapa NEMku, dan lulus atau tidaknya aku. Kalau lulus sudah pasti. Tapi, NEMku berapa? Jantungku berdebar-debar. Setelah dilihat, ternyata NEMku 25.50. Awalnya aku senang. Ternyata setelah dilihat, dengan NEMku, aku tidak bisa masuk ke SMP 5 atau SMP 2. Sedih memang rasanya. Sedih sekali. Sekolah impianku, lenyap seketika. NEMku hanya bisa untuk masuk ke SMP 14, SMP 7, SMP 1, dan SMP-SMP lain yang berada di bawahnya. Akhirnya, dengan berat hati aku masuk ke SMP 14. SMP 14 memang cluster 1 dan peringkat ke tiga di cluster satu. Dengan sangat berat hati aku melangkah untuk menjelajahi dunia 14. Tapi setelah aku bergaul, berteman, tenyata di SMP 14 mengasyikkan juga. Tidak seperti SMP yang lainnya. Di SMP 14 toiletnya bersih, bagus, terawat. Kelasku juga ada speaker, in-focus, dan sebentar lagi akan dipasang AC. Selamat datang, Abel di dunia phadlast....
